Filosofi

Penting vs Genting

Posted on

Dalam menjalani hidup, kita seringkali diterpa kebingungan, kebimbangan dan kegalauan tatkala dihadapkan pada sebuah realita :

  1. Ini penting apa tidak?
  2. Ini genting apa tidak?

Dilihat sekilas .,
Kedua pertanyaan itu masih bisa dijawab walau terbesit sedikit ragu, pun kLo ada yang dengan tegas menjawab, itu karena dia bener2 sudah yakin 😎

Tapi kalau pertanyaannya dimodifikasi sedemikian rupa :

  1. Ini penting dan genting?
  2. Ini penting tapi tidak genting?
  3. Ini tidak penting tapi genting?
  4. Ini tidak penting dan tidak genting?

Masihkah sebagian besar dari kita mudah menjawabnya ❓
Mari kita renungkan bersama kawan 🙂

Source : status FB Cak Anas

Manusia dan Dirinya

Posted on

Dalam menjalani hidup dan kehidupan yang berliku penuh kelok, seringkali kita mendapati diri sendiri tak berdaya terpojok dalam dekapan hangat selimut kebingungan dan kegalauan.

NoteDi fase keRAPUHan itulah kita akan mendapati realita bahwa kekuatan, kepandaian, beragam potensi, kedudukan, prestasi, ketenaran dan kekayaan tak berlaku :mrgreen:

Kala teman seolah entah kemana
Kala sahabat tiada rimbanya
Kala keluarga tak terjagkau
Kala handai taulan seakan menghilang
Kala do’a yang hanya bisa terpanjat
Kala hanya Tuhan yang selalu senatiasa mengulurkan tangan

Disaat itulah kita menemukan sosok diri kita yang sebenarnya, dimana sering terlupa dan terkadang sengaja dilupakan 😳

Sesosok diri seorang hamba yang tangguh, yang mampu bangkit setiap kali terjatuh dan sekuat tenaga memperbaiki diri agar tidak jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Read the rest of this entry »

Filosofi Wortel

Posted on

Pernahkah kita memperhatikan Nenek, Ibu, Istri, Anak, Saudara atau siapapun yang lagi memasak sup yang mengandung wortel ., misal : “Sayur SOP

Setelah dibersihkan, wortel2 itu akan dimasukkan pada air yang sudah dididihkan sebelumnya bersama bahan2 lainnya. Tapi pernahkah kita perhatikan adanya perubahan pada wortel yang jika sebelum dimasak terlihat begitu keras dan kokoh, tapi setelah matang berubah jadi begitu lemah dan lunak 😕

Analogi diatas bisa kita terapkan dalam kehidupan, dimana wortel adalah diri kita dan air yang mendidih adalah pelbagai permasalahan yang datang bertamu silih berhanti.

HIDUP

  • tidak selamanya mudah
  • tidak selamanya mulus
  • tidak selamanya nyaman
  • terkadang ., menjadi begitu sangat susah
  • terkadang ., menjadi begitu sangat berat
  • terkadang ., menjadi begitu sangat sulit

dimana keadaan tidak berubah seperti yang kita inginkan & orang2 tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan 😯

Laiknya wortel .,
kita maju dengan langkah tegap, kuat, tegas dan penuh semangat
tapi,
kita kembali dengan langkah gontai
kita keluar dengan lemah dan lunak
wortel
kita jadi sangat lelah
hilang harapan
berhenti
menyerah
dan

hilang semangat

Semoga kita tidak menjadi sosok Pribadi Wortel

Ibu Ainun : Mengapa Saya tidak Bekerja ?

Posted on Updated on

Ibu Ainun Habibie :
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter?
Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.

Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ?
Anak saya akan tidak memiliki ibu.

Ibu Hasri AinunSeimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?
Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu.”
Jangan biarkan Anak-anakmu hanya bersama pengasuh mereka.

Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh
beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.

Read the rest of this entry »

Filosofi Kopi

Posted on Updated on

coffeeSekelompok alumni University California of Berkeley yang telah mapan dalam karir masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang telah tua.
Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stess di pekerjaan dan kehidupan mereka 🙄

Menawari tamu2nya kopi, Sang Professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan beragam cangkir dari berbagai jenis mulai porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa hingga beberapa diantaranya gelas mahal dan sangat indah 😳
Dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan :

Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja.
Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami
.” Read the rest of this entry »

Filosofi Jari

Posted on

Berbicara mengenai jari atau finger pastinya mayoritas kita akan menjawab senada, se’iya dan sekata walau dalam penjabarannya beragam dan variatif 😉

Jari adalah “ujung tangan atau kaki yg beruas-ruas, lima banyaknya” ~ Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dalam keseharian, diakui ato tidak kita sering memperhatikan bahkan terkadang dengan sengaja kita melihat dan membandingkan bentuk jari2 😳 di lain waktu sempat juga pastinya terlintas sebuah tanya di otak kita perihal kegunaan, fungsi, bentuk dan ruas yang berbeda serta semua hal tentang jari 😆

Sadarkah kita bahwa dibalik penciptaan jari-jemari itu terdapat makna yang terangkum rapi dan tersirat dengan sangat indahnya dimana bisa menjadi motto dalam menjalani hidup yang penuh dengan onak duri dan kerikil2 tajam yang tanpa salam merobek telapak kaki kita 😕

Jari dan Makna

  1. Jari Jempol – Penyanjung dan Berkata baik
  2. Jari Telunjuk – Penunjuk dan Suka Memerintah
  3. Jari Tengah – Sombong dan Penghasut
  4. Jari Manis – Penyabar, Baik dan Tauladan
  5. Jari Kelingking – Penurut, Lemah dan Pema’af

Dengan makna berbeda dan fungsi yang beragam tapi kelimanya tetap selalu memperlihatkan kekompakan serta keharmonisan kala melakukan sesuatu demi tujuan bersama seperti : menulis, menolong, melakukan aktifitas, memukul, memegang and many more . .. 😉

Apapun RAGAM kita (SARA) seyogyanya tidak menjadi penghambat tuk saling bahu-membahu dan bekerjasama” ~~ KEBERAGAMAN adalah RAHMAT 😉 😛 😉

Episode Salah .,

Posted on


Do you ever feel it ?