Muse

Penting vs Genting

Posted on

Dalam menjalani hidup, kita seringkali diterpa kebingungan, kebimbangan dan kegalauan tatkala dihadapkan pada sebuah realita :

  1. Ini penting apa tidak?
  2. Ini genting apa tidak?

Dilihat sekilas .,
Kedua pertanyaan itu masih bisa dijawab walau terbesit sedikit ragu, pun kLo ada yang dengan tegas menjawab, itu karena dia bener2 sudah yakin 😎

Tapi kalau pertanyaannya dimodifikasi sedemikian rupa :

  1. Ini penting dan genting?
  2. Ini penting tapi tidak genting?
  3. Ini tidak penting tapi genting?
  4. Ini tidak penting dan tidak genting?

Masihkah sebagian besar dari kita mudah menjawabnya ❓
Mari kita renungkan bersama kawan 🙂

Source : status FB Cak Anas

Advertisements

Berdamai dengan Diri

Posted on Updated on

Disadari atau tidak, seringkali kita men-Judge diri dengan pelbagai cap negatif serta beragam stempel penghancur diri laiknya : bodoh, malas, galau, bimbang, takut, jelek, amatir, miskin dll 😯

Sebelum kita makin menyudutkan diri dalam sudut ruangan penyiksaan, ada baiknya kita merenungi untaian kalimat Bpk. Mario Teguh berikut 🙂

Engkau yang riuh tertawa untuk menggembirakan sekelilingmu, saat sebetulnya hatimu gamang dengan keraguanmu mengenai masa depan, sini … duduklah engkau dekat denganku, dan dengarlah ini …

Ketahuilah, bahwa semua keraguanmu itu adalah tabir yang memisahkan impianmu dari tindakanmu.

Semakin tubuhmu jauh dari tindakan, semakin tebal tabir keraguan itu menutupi pandanganmu.

marioEngkau telah sering memberitahuku bahwa Tuhan Maha Absolut, yang keinginanNya tak tertahankan oleh apa pun, yang jika Ia berkehendak agar sesuatu menjadi – maka jadilah.

Lalu, mengapakah engkau demikian khawatir bahwa yang kau lakukan akan menjamin keberhasilanmu – atau tidak, padahal engkau sendiri yang mengatakan bahwa Tuhanlah Yang Maha Penentu?

Tahukah Engkau bahwa yang kau lakukan, belum tentu yang akan dijadikan oleh Tuhan sebagai sebab dari penyejahteraanmu?

Bukankah banyak sekali kebaikan yang sedang kau nikmati, yang adalah kebaikan yang lebih besar daripada yang seharusnya pantas bagimu? Read the rest of this entry »

Sajak IBU

Posted on

Berapa banyak yang sanggup menyuapkan ibunya..
Berapa banyak yang sanggup meLAP muntah ibunya..
Berapa banyak yang sanggup mengganti lampin ibunya..
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya..
Berapa banyak yang sanggup membuang ulat dan membersihkan luka kudis ibunya..
Berapa banyak yang sanggup berhenti bekerja untuk menjaga ibunya..
Dan .. akhir sekali …

Berapa banyak yang mendo’akan JENAZAH ibunya..

ibuAku mempunyai pasangan hidup …
Aku mempunyai ibu …

Saat senang aku cari pasanganku …
Saat sedih baru cari ibuku …

Saat sukses aku seritakan pada pasanganku …
Saat gagal aku ceritakan pada ibuku …

Saat bahagia aku peluk erat pasanganku …
Saat sedih aku peluk erat ibuku … Read the rest of this entry »

Manusia dan Dirinya

Posted on

Dalam menjalani hidup dan kehidupan yang berliku penuh kelok, seringkali kita mendapati diri sendiri tak berdaya terpojok dalam dekapan hangat selimut kebingungan dan kegalauan.

NoteDi fase keRAPUHan itulah kita akan mendapati realita bahwa kekuatan, kepandaian, beragam potensi, kedudukan, prestasi, ketenaran dan kekayaan tak berlaku :mrgreen:

Kala teman seolah entah kemana
Kala sahabat tiada rimbanya
Kala keluarga tak terjagkau
Kala handai taulan seakan menghilang
Kala do’a yang hanya bisa terpanjat
Kala hanya Tuhan yang selalu senatiasa mengulurkan tangan

Disaat itulah kita menemukan sosok diri kita yang sebenarnya, dimana sering terlupa dan terkadang sengaja dilupakan 😳

Sesosok diri seorang hamba yang tangguh, yang mampu bangkit setiap kali terjatuh dan sekuat tenaga memperbaiki diri agar tidak jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Read the rest of this entry »

Filosofi Wortel

Posted on

Pernahkah kita memperhatikan Nenek, Ibu, Istri, Anak, Saudara atau siapapun yang lagi memasak sup yang mengandung wortel ., misal : “Sayur SOP

Setelah dibersihkan, wortel2 itu akan dimasukkan pada air yang sudah dididihkan sebelumnya bersama bahan2 lainnya. Tapi pernahkah kita perhatikan adanya perubahan pada wortel yang jika sebelum dimasak terlihat begitu keras dan kokoh, tapi setelah matang berubah jadi begitu lemah dan lunak 😕

Analogi diatas bisa kita terapkan dalam kehidupan, dimana wortel adalah diri kita dan air yang mendidih adalah pelbagai permasalahan yang datang bertamu silih berhanti.

HIDUP

  • tidak selamanya mudah
  • tidak selamanya mulus
  • tidak selamanya nyaman
  • terkadang ., menjadi begitu sangat susah
  • terkadang ., menjadi begitu sangat berat
  • terkadang ., menjadi begitu sangat sulit

dimana keadaan tidak berubah seperti yang kita inginkan & orang2 tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan 😯

Laiknya wortel .,
kita maju dengan langkah tegap, kuat, tegas dan penuh semangat
tapi,
kita kembali dengan langkah gontai
kita keluar dengan lemah dan lunak
wortel
kita jadi sangat lelah
hilang harapan
berhenti
menyerah
dan

hilang semangat

Semoga kita tidak menjadi sosok Pribadi Wortel

Nasehat RMP Sosrokartono

Posted on Updated on

— Sebagaimana terdapat pada makam RMP Sosrokartono —

Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji (Kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat)
Trimah mawi pasrah (pasrah terhadap keadaan yang telah terjadi),
Suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut),
Langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka),
Anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

Beliau adalah kakak dari RA. Kartini yang juga dikenal sebagai Pahlawan Pendidikan dan seorang Polyglot. Beliau meninggal pada 8 Februari 1952, tanpa meninggalkan istri dan anak. Dimakamkan di makam Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah di samping makam kedua orang tuanya Nyai Ngasirah dan RMA Sosroningrat

Sumber : DetikNews

Elegi Rezeki

Posted on Updated on

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dalam hidup, proses diraihnya REZEKI bagi semua makhluk hidup sebenarnya sudah ditentukan dengan manajemen yang sangat profesional oleh ALLAH. Terlebih bagi kita yang mau menyediakan waktu untuk berpikir dan merenung

Di dalam perjalanannya, acapkali kita menemui sebagian masyarakat bahkan kita sendiri yang masih sering mengeluh manakala sudah bekerja keras banting tulang tapi REZEKI yang didapatkan tetap saja kecil 😳

gajiTetapi sadarkah kita bahwa aturan REZEKI yang diberlakukan Allah itu tiada lain juga bersandar dan merupakan imbas dari bentuk kausalitas yang kita lakukan. Untuk lebih menyederhanakan pemahaman kita, ada baiknya kita menelaah kata2 Bpk. Mario Teguh berikut :

Memang rezeki itu sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan.
Ada rezeki untuk orang malas, ada rezeki untuk orang rajin.
Ada rezeki untuk orang yang hanya menunggu, ada rezeki untuk orang yang menjemput.
Ada rezeki untuk orang yang mengeluh, dan ada rezeki untuk orang yang bersyukur.

Dan sesungguhnya, rezeki itu hanya untuk orang jujur.

Adapun terhadap orang yang berusaha mendapatkan REZEKI dari jalan yang tidak baik atau bahkan dengan menghalalkan beragam cara maka sebenarnya “banyaknya uang [curian] mereka bukanlah rezeki, tapi besarnya ukuran hukuman yang pasti dikenakan atas mereka“.

Rezeki sudah ada yang mengatur.
Kita tinggal patuh dalam kejujuran dan kerja keras