4 Dosa Besar Sekolah

Posted on Updated on

Disadari atau tidak sekolah telah berperan penting bagi keberlangsungan pendidikan yang notabene merupakan ujung tombak dalam proses pentransferan ilmu dan pengetahuan😆 walaupun banyak pengetahuan yang bisa didapatkan di luar sekolah, tapi .. sekolah dengan polanya yang sistematis tetap memiliki kelebihan dalam proses melakukan pendidikan dan pembelajaran bagi anak didik.

Tapi .,
dewasa ini, diakui atau tidak🙄 sistem pendidikan di negara ini mulai jauh dari arti yang sebenarnya, dimana kurang menghargai proses yang dilalui dan menjadikan nilai sebagai tolak ukur sehingga membuat dan mengkondisikan pembelajaran yang membosankan😦

Dosa2 Sekolah

  1. Menerapkan ujian dengan waktu terbatas yang sifatnya untuk mengetahui kecepatan mengingat sebuah materi. Pertanyaannya. Apakah anda pernah diajarkan metode mengingat cepat oleh sekolah atau kampus anda ..?
  2. Sistem ujian closed book yang asumsinya bahwa kemampuan mengingat suatu pengetahuan jauh lebih berharga dari pada kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Dalam Taksonomi Bloom, ini adalah cara berpikir paling rendah. Padahal tuhan telah memberikan kemampuan otak yang bisa digunakan lebih dari itu (analisa, sintesa, dan evaluasi)
  3. Jawaban tidak sesuai dengan kunci guru / dosen = salah total. Ini membuat anda tidak bisa berpikir bebas atau kreatif walaupun inti jawabannya sama yang akhirnya membuat anda tidak berani mencoba hal baru dalam hidup
  4. Tolak ukur adalah nilai. Bukan proses yang dijalani. Tidak peduli seberapa keras anda berusaha belajar mati-matian, menghafal materi ini itu. Kalau nilai anda buruk. Selamat tinggal…

Sumber : Kaskus

10 thoughts on “4 Dosa Besar Sekolah

    yusuf satria admadja said:
    November 8, 2010 at 9:32 am

    pak,ga baik buka” aib😀

    adam abdu said:
    November 8, 2010 at 9:42 am

    Untuk yang ini aku ngak bisa berkata apapun ….

    evrha27 responded:
    November 8, 2010 at 10:37 am

    @Yusuf : ni bukan masalah ‘aib😦

    @Abdu : ehmmmmmmmmmm

    far said:
    November 8, 2010 at 1:18 pm

    sayangnnya semua adalah sistem…..jadi mau tidak mau, tahu tidak tahu ..hanya kita jalani…

    ianndavina said:
    November 8, 2010 at 1:19 pm

    .kalo smua itu dosa, npha smpai skrang msih ga berubah??
    .bapak ndiri kalo ulangan kan sistem.ny closed book. !

    angki said:
    November 8, 2010 at 1:23 pm

    saya sedari SD sering untuk mendebat ttg pelajaran oleh guru, terutama tentang pertanyaan ‘pendapat kamu’.
    Saya sering menjawab jawaban yg berbeda. Dan saya protes ketika jawaban saya disalahkan. Bukankah pertanyaannya ‘menurut pendapat kamu apa yg blablablablabla’ [imho]

    wida said:
    November 8, 2010 at 1:33 pm

    numpang comment mas:
    ak setuju sama point 2 dan 3.

    Tapi kalo point nomor 1 sepertinya tidak ada salahnya, karena kalo diliat dan ditinjau dari sisi lain sebenrnya bukan kemampuan untuk mengingat, melainkan seberapa cepat siswa dapat keluar dari permasalahan, dari sini dapat dibedain mana siswa yg cerdik dan mana siswa yg lemooottt. Hal ini akan melatih kemampuan motorik untuk bisa menyelesaikan masalahnya lebih cepat, sehingga orang akan lebih tanggap ketika mendapat masalah. Dan ini membiasakan diri agar bisa memperhitungkan dengan waktu jg,bayangkan saja kita bekerja saja ada target dan deadline, kalau tidak dilatih seperti ini, maka siswa akan banyak yg berleha leha dan menjadikan nya lebih malas.

    Kemudian yg ke 4 adalah nilai. Suatu proses akan berujung pada akhir, dan akhir ini yg akan mencetak nilai. Bayangkan kita bekerja tp tidak punya tujuan akhir. Semua nya akan hampa, tak ada yg bisa dikejar, sekalipun proses, ujungnya adalah untuk mendapatkan nilai. Karena karakteristik anak muda jaman sekarang adalah manja, sangat sedikit keinginan untuk berusaha kalau tidak dikejar2 oleh suatu hasil.

    just masukan sie mas…boleh di bata boleh di cendol jg.
    btw photo ny kurang narsis…hahahah

    gori said:
    November 8, 2010 at 1:35 pm

    nice inpo nih,.,.,.,

    btw bnr juga knapa harus nilai yg di utamakan…..

    abi said:
    November 8, 2010 at 1:52 pm

    mmg bener..makanya sekarang banyak anak skolah stres
    belum lagi ada full day skul.tiap hari dicekokin pelajaran pulang bawa tugas..tambah pusing dah…

    dhE said:
    November 8, 2010 at 2:24 pm

    menurutq semua sistem pasti punya kelebihan dan kekurangan, jadi g selalu sistem yang diterapkan itu benar.
    aq setuju dg pemberian waktu seperti yg dkatakan poin 1, tapi aq tidak setuju dengan kata ‘menghafal materi’.pda dasarny siswa lebih dituntut untuk mengerti bukan menghafal.kalo ud ngerti pasti ntr gmpang untuk mrangkai kata.
    tapi emank ada lho guru yang butuh jawaban sama persis sperti yang ada pada teks book.(perlu dibenahi tuh guruny)
    pemberian batas waktu perlu untuk mengetahui seberapa cepat siswa dalam menyelesaikan soal yg diberikan,n waktu yang diberikan pun uda disesuaikan lah dg soal yg ada.so g masalah.

    untuk poin 2 closebook sepertiny tidak perlu untuk mata pelajaran seperti matematika, fisika, atau mapel yg perlu hitungan dan rumus.g perlu tuh hafalin rumus toh ntr kalo kerja juga g bakalan ditnyain rumus.hoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s