Menang vs Kalah

Posted on Updated on

failedDalam setiap rangkain pertandingan, perlombaan maupun pemilihan kita pasti dihadapkan pada 2 opsi yang harus diambil yakni menang – kalah. Dualisme ini seolah menjadi support dan taste tersendiri yang membuat semua terlihat menarik. Tanpa keduanya, bisa dibayangkan bahwa segala sesuatu pasti terasa hambar walaupun kebanyakan dari kita pasti lebih memilih yang pertama (menang) tanpa pernah mau menyapa pasangannya (kalah). Pun demikian juga dengan hidup dimana setiap detailnya selalu berupa pilihan antara menang – kalah. Mulai dari yang berhubungan langsung dengan diri sendiri (internal) sampai hubungan sosial dengan makhluk lainnya (eksternal).

gagalMemang menyakitkan dan terasa pedih tatkala kalah datang mendera, yang ada hanya perasaan marah, benci dan kesal sebagai bentuk penolakan terhadap kekalahan, bahkan tak jarang ada yang sampai melakukan segala macam cara untuk meraih sebuah kemenangan. Mungkin semua itu terjadi karena kita masih belum bisa mengambil hikmah dari perbedaan menang – kalah yang memang sangat tipis dan halus or jiwa kita lagi dinafikan dengan kata kalah sehingga yang tertancap di hati dan pikiran kita hanya deretan 6 huruf (menang).

Gede Prama dalam coretannya “Semua orang bilang kalau menang itu nikmat, kalah itu menyakitkan. Namun sedikit yang menemukan cahaya terang di balik kekalahan yang menyakitkan“. Benarkah itu? Jawaban dari pertanyaan itu hanya bisa didapatkan ketika kita dalam keadaan tenang dan kepala dingin dimana suara hati kecil (pengajahwentahan dari Got Spot – Ari Ginanjar) akan terdengar lebih nyaring sehingga kita bisa saling berbicara tanpa takut siulan2 kecil nafsu. Bercita-cita menang manusiawi, tapi jika rasa kecewa berlebih yang muncul maka hal itu perlu dipertanyakan dan diresapi guna direnungkan secara mendalam siapa tau dibalik kekalahan itu sebenarnya ada aura positif yang mau dan sedang membawa kita ketingkat manusia yang lebih tinggi.

Bagi Gede Prama, menang – kalah adalah tangga yang pasti dilalui oleh setiap manusia untuk beranjak ke tangga berikutnya yakni kawan – lawan. Dengan mengusung sebuah pertanyaan “bisakah kita berkawan dengan lawan?” seakan menggambarkan sebuah tangga yang sulit untuk dilewati tapi tidak menutup kemungkinan guna dicoba. “Setiap kali kita manusia dihadapkan pada lawan-lawan yang tidak terbayangkan besarnya, itu juga sebuah tanda-tanda, kalau kehidupan sedang membimbing ke wilayah yang tidak terbayangkan besarnya“. Sebagaimana Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat pasca perang Badar : “Kita baru saja menghadapi peperangan yang berat, dan peperangan yang sangat berat itu sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu“. Dengan pikiran jernih dan hati tenang, kita bisa menafsirkan bahwa semua pemikiran itu bermula dari diri kita sendiri. Dan ketika bisa berkomunikasi dan bersinergi dengan mampu menerima sebuah kekalahan layaknya menggenggam sebuah kemenangan, secara tidak langsung kita telah berusaha untuk berkawan tidak hanya dengan sesama kawan tapi juga lawan guna meraih tangga selanjutnya yaitu piala.

When you totally flow, the agony disappear, pain becomes pleasure

“Prestasi lahir dari kegagalan yang terjadi berulang2 serta introspeksi. Kesuksesan hanya mewakili 10% perjuangan yang merupakan hasil dari 90% kegagalan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s