Industri per”FILM”an QT

Posted on Updated on

Dewasa ini industri perfilman dalam negri seOlah mendapatkan oase kehidupan, beragam genre pun bertebaran memadati dinding-dinding bioskop yang berserakan di seluruh persada negri, mulai dari yang bertemakan

  1. Horor
  2. Komedi
  3. Romance
  4. Triangle Love sampai
  5. Religi

semua saling berlomba mendapatkan empati dan animo masyarakat. Tapi yang paling menjadi perhatianQ terutama sejak memasuki era 2008 ini adalah tumbuh suburnya film-film yang sebagian besar isi or materinya menjurus dan condong ke arah Romantisme hubungan lawan jenis serta erotisme baik itu film yG bertemakan horor maupun yang benar2 romantika remaja, sebut saja

  1. Tali Pocong Perawan
  2. Terowongan Casablanca
  3. 3 Hari Untuk Selamanya
  4. Radit Jani
  5. Quickie Express
  6. Kawin Kontrak
  7. DO
  8. ML (yG katae 15 mei bakalan tayang)
  9. n many more…

emang sich… setiap durasi “adegan mesra dan erotis tidak sampai menjurus pada kategori XXX sebagaimana yang ada di Blue Film, tapi gebrakan tersebut ada kalanya perlu diacungin jempol cz keberanian para produser, sutradara hingga pemain sendiri dalam melakonkan tokoh dan karakternya sedikit banyak adalah pencerminan kondisi realitas yang ada di sekitar QT.
Emang, di satu sisi adegan “mesra” dalam setiap durasi film itu bisa dijadikan pelajaran or semacam kaca perbandingan apalagi dengan maraknya generasi QT yang berusaha mendompleng pola hidup negara2 barat untuk dijadikan trensetter, tapi in other side G bisa dikesampingkan juga perasaan dan letupan-letupan hasrat penonton yang muncul dan bergejolak saat menyaksikan setiap durasi dimana si pemain sedang mengumbar sensualitasnya baik itu

  1. Berbikini ria
  2. Pose menantang
  3. Kissing hingga
  4. ML

walaupun toh di akhir cerita digambarkan akibat or konsekuensi yang harus diemban dan diterima oleh si pemain yang mana bisa dijadikan i’tibar oleh penonton jikalau suatu saat terbesit untuk melakukan hal2 yang notabene akan merobek2 norma sosial, tapi tetap it’s can’t be denied bahwa setiap adegan “erotis” yang ada di setiap durasi sedikit banyak pasti membekas dan bisa2 memakan “korban” jikalau tidak bisa “ngerem” diri.

Sungguh sebuah konsekuensi berat yang harus dilalui oleh industri perfilman negri QT yang mana masih mencari identitas sehingga bisa bersaing di negri sendiri dan dengan perfilman negara lain…

Dipandang dari sudut mana pun setiap perbuatan pasti membawa citra positif dan negatif, sekarang yang terpenting adalah sejauh mana QT bisa menangkap rangsang positif yang tersirat dalam setiap adegan film dan mem”follow up” citra2 negatif menjadi the good one sehingga terhindar dari hal2 yang tidak diinginkan bersama…

2 thoughts on “Industri per”FILM”an QT

    PerFILMan Kita (2) « Dunia Cak Tuh said:
    April 23, 2011 at 5:39 am

    […] , Industri Perfilman kita makin tahun makin buram dan seolah tanpa arah, terlebih semenjak ditinggal oleh FILM2 […]

    Dan Perfilman Asing pun diTarik . .. | Dunia Cak Tuh said:
    January 8, 2013 at 1:45 am

    […] industri perfilman kita bisa menarik animo masyarakat […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s